Kebutuhan Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam (gempa bumi, tsunami, gunung meletus, angin, dsb) di Indonesia member dampak buruk dalam bidang ekonomi dan sosial. Beberapa dampak bencana alam yang masih kita rasakan dampaknya adalah meletusnya Gunung Merapi di pulau Jawa pada bulan Oktober 2010 dan juga tsunami yang melanda pulau Metawai. Sejarah telah mencatat bencana alam – bencana alam yang terjadi di Indonesia beserta dampaknya untuk komunitas setempat.
Selain bencana alam, krisis ekonomi juga berdampak buruk untuk jutaan pekerja sehingga ribuan anak terpaksa meninggalkan sekolah untuk bekerja. Pekerja anak adalah masalah serius di Indoneisa, setidaknya sebanyak 2,3 juta anak berusia10-14 tahun dan 3,8 juta anak berusia 15-18 tahun bekerja guna membantu keluarga mereka.
Sumbawa adalah bagian dari Republik Indonesia dan terletak tidak jauh dari Bali, sekitar 3 pulau dari Bali ke arah timur Indonesia. Pulau Sumbawa amat berbeda dari Bali. Ekonomi dan pariwisata di Bali sudah sangat maju dimana ribuan wisatawan dari seluruh dunia tiba di airport Bali tiap harinya. Akan tetapi kunjungan wisatawan ke pulau Sumbawa sangat rendah per minggunya, walaupun pulau Sumbawa lebih besar dari pulau Bali (Bali: 5,700 km2, Sumbawa: 15,448 km2). Hanya sedikit masyarakat lokal Sumbawa yang memiliki kapasitas untuk mengembangkan pariwisata. Hal ini sangat disayangkan karena pariwisata dapat menjadi salah satu jalan bagi masyarakat setempat untuk keluar dari jaring kemiskinan.
Di pulau Sumbawa khususnya di provinsi Dompu, populasi masyarakat Hu'u terbentuk dari masyarakat di enam kampung yang menempati areal sepanjang 30 kilometer jalan, dan dihuni oleh 8050 jiwa, dimana 30% dari mereka berada dalam usia sekolah. Masalah utama mereka kurang lebih sama dengan masalah yang dihadapi oleh kelompok masyarakat lain di negeri ini, tetapi dengan pengaruh sosial yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh karakteristik alam dan keterpencilan area dimana masyarakat ini tinggal, terutama bila mengingat bahwa masyarakat ini tidak memiliki fasilitas infrastruktur yang baik. Lebih jauh lagi, dengan keterbatasan perekonomiannya, kelemahan daerah ini semakin nyata terlihat.
Walaupun tingkat melek aksara di Indonesia adalah 91%, tingkat putus sekolah di negri ini cukup tinggi sebanyak 50% untuk sekolah dasar dalam 6 tahun terakhir. Prosentase tersebut tidak representative untuk menggambarkan pendidikan masyarakat Hu’u dimana tingak melek aksara dan putus sekolah lebih buruk. Masyrakat setempat bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka juga mencari rumput laut yang mana dijual kepada perusahan kosmetika dengan harga yang sangat rendah.
Kualitas pendidikan di Indonesia sangat rendah dimana kebanyakan guru tidak memeliki ijazah universitas atau training persiapan untuk menjadi guru. Sistem pendidikan guru tidak memiliki kandungan tehnikal atau profesional sehingga murid – murid mengalami kesusahan untuk berhasil secara profesional. Hal – hal ini menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat setempat kepada sekolah sehingga tingkat putus sekolah amat tinggi dan jurang yang amat besar dalam pelatihan dan pendidikan masyarakat Hu’u
Struktur dan sistem pendidikan Indonesia kurang menyokong masyarakat kecil yang menyebabkan jurang perbedaan dalam pelatihan dan pendidikan untuk masyarakat Hu’u. Kaum muda Hu’u menghadapi berbagai kendala seperti rendahnya standar hidup di pedesaan, tingginya tingkat buta aksara dan angka putus sekolah, tingginya tingkat pekerja anak.
Observasi pertama kami adalah banyaknya anak masa sekolah yang tidak sekolah, khususnya mereka yang tinggal di pedalaman. Lebih lanjut, kebanyakan anak – anak ini tidak sekolah karena mereka harus bekerja di ladang, pertaninan, membantu orangtua mereka menjual barang dagangan, membersikah sepatu dan berbagai pekerjaan laiinya yang tidak sesuai dengan umur mereka. Lebih dari itu, akses untuk ke sekolah juga tidak memadai dikarenakan minimnya transportasi dan komunikasi sehingga anak – anak dari pedalaman tidak dapat datang ke sekolah setiap hari. Menurut para guru, banyak para orang tua murid yang tidak begitu tertarik mengirimkan anak mereka ke sekolah. Mereka lebih senang jika anak perempuan mereka membantu pekerjaan rumah dan anak lelaki mereka memebantu di ladang. Sebagian pebisnis setempat memperkerjakan anak untuk kerja tambahan dengan alas an untuk mengurangi biaya dalam bisnis mereka.
Jika dunia pendidikan anak-anak dapat dikatakan sangat rendah, maka sistem pendidkan untuk dewasa bias dikatakan tidak ada. Tingkat buta aksara dewasa amat tinggi. Diperkirakan sebanyak sepertiga orang dewasa buta aksara karena mereka tidah sekolah pada masa mereka kanak-kanak atau tidak ada pelatihan baca tulis bagi kaum dewasa yang buta aksara.
Kami juga ingin menambahkan tingginya penyakit pada anak yang pada umumnya disebabkan oleh kekurangan gizi, kurangnya jasa medik yang tersedia di pusat kesehatan setempat dan juga kurangnya vaksini bagi masyarakat setempat. Bangak kasus – kasus yang tidak ditangani secara tepat untuk anak – anak yang memiliki keterbatasan fisik.
Kami melihat dari sisi lingkungan, tidak ada sistem terpadu untuk pembuangan sampah, yang menyebabkan masyarakat local membuang sampah tanpa memikirkan lingkungan setempat. Oleh karena itu, pelatihan dan pendidikan dalam manajemen pembuangan sampah sangat penting untuk memelihata dan menjaga keadaan lingkungan hayati setempat.
Secara singkat, masyarakat Hu’u tinggal di dalam konteks yang tidak menguntungkan dan terpojok secara social dengan berbagai macam masalah. Hal ini menyebabkan peluang untuk perkembangan, pembangunan dan kesuksesan secara social atau profesional teramat kecil.
Link to "Foto Tempat"